Rabu, September 18, 2013

DEAR SON, My SonShine Azel

Terimakasih Mak Indah Nuria Savitri yang telah memberikan tongkat estafetnya kepada saya untuk meneruskan cerita berangkai dan penuh makna #DearSon. Kita patut peluk Makpuh Indah Juli sang penggagas tantangan surat terbuka ini :)

Best moment Mimi with Azel, 30 Maret 2011
Fiuhh…finally anak lanang yang lagi aktif-aktifnya kini tidur dideket meja kerjaku. Beberapa hari kedepan memang harus ikut Mimi ngantor ya Mas ! karena Enin; tetangga yang biasa ngerawat mas Azel, siang kemarin opname di rumah sakit. Bisa ditebak, pagi ini ku awali dengan sedikit drama : Pipinya sudah berangkat kerja, Azel masih tidur lelap dan aku bergegas keluar rumah sebentar (mengunci Azel sendirian) untuk membeli bekal sarapannya di busway nanti. Sip lah, nasi dan sayur sup sudah ditangan. Begitu kembali dan membuka pintu rumah, miris melihat Azel nangis sesenggukan dipojokan ruang tamu *pastinya mencari-cari kenapa rumah kosong. “Cup cup sayaaang, maafin yaa.. tadi nyari Mimi yaa. Nih Mimi beli sarapan buat Azel kan ikut ke kantor” aku memeluknya. Dengan suara nelangsa dia menjawab “Bukan ! bukan cali Mimi, tapi Pipi huu huaa hu” dia meneruskan tangisannya. Duh memelas banget Mimi-mu ini.. #ngelus-elus dada. Well, anakku.. mungkin kau belum bisa membaca, tapi suatu saat, surat terbuka untukmu ini akan membuatmu mengerti betapa besar kasih cinta Mimi untukmu…

Mimi rindu masa-masa memijit, memandikan, menatahmu..
Anak lelakiku sayang Fawazel… Mimi mengandungmu setelah 2 tahun pernikahan tepat 1 bulan setelah syukuran rumah baru.  Layaknya ikatan batin, saat mengandungmu Mimi yakin bahwa jenis kelaminmu adalah laki-laki. Terlebih mimpi yang selalu hadir dalam bunga tidur itu memberikan tanda bahwa kelak anak Mimi seorang jagoan. Saat kandungan 28 minggu, karena tak sabar ingin melihat wajahmu Mimi melakukan USG 4 dimensi. Ternyata benar, dari layar LED terpampang jelas jenis kelaminmu laki-laki, senyum dari wajahmu juga berulang kali kau tampakkan, tangan mungilmu melambai-lambai seolah tak sabar ingin kami peluk. Mas Azel telah ikut kemanapun Mimi pergi selama 38 minggu dalam kandungan, serta kini meramaikan hari-hari Mimi selama genap usiamu sekarang 2 tahun 5 bulan.

Detik-detik awal kehadiran Fawazel Everest Sukarno
Melamun apa Mas ?
Tangisan pertamamu pecah pada 30 Maret 2011 dengan berat 3,06 kg dan tinggi badan 49 cm, satu minggu lebih cepat dari hari perkiraan lahir. Beruntung Mimi mengambil cuti jauh-jauh hari karena selain pernah kontraksi saat perjalanan shoting juga ingin menyiapkan mental agar lebih siap. Masih sangat jelas dalam ingatan, pukul 3 pagi waktu itu Mimi & Pipi naik taxi ke Rumah Sakit Hermina Bekasi. 
Seneng-senengnya tengkurep
Jujur, Mimi sangat takut menghadapi proses kelahiranmu yang hanya didampingi Pipi-mu. Terlebih saat memasuki ruangan bersalin, Mimi langsung down melihat jenazah bayi yang baru dilahirkan. Tak lama kemudian mendengar ucapan seorang Dokter dari bilik lain “Bu, maaf janin ibu tidak berkembang jadi harus dikuret” Deg ! mental Mimi rasanya jatuh. Belum lagi teriakan calon ibu lain yang merengek kesakitan. Mimi hanya bisa mengucap “Astaghfirullah” berulang kali dengan lirih dan berusaha untuk tidak mengeluh agar tenaga ini kuat untuk mengeluarkanmu.


Ultah ke-2 tahun
Setelah 17 jam dari tanda-tanda lahir dan dahsyatnya kontraksi, tibalah di pembukaan 10 bersamaan dengan tibanya Dokter yang akan membantu persalinan karena jalanan macet. “Bunda berdoa dan semangat yaa...ayo kita sambut jagoannya !” itulah penyemangat dari dokter dan para suster. Detak jantungmu sempat turun drastis hingga suster kaget dan segera memberi bantuan oksigen lewat hidung Mimi. Mimi sangat takut sekali jika harus kehilanganmu. Vacum pun telah disiapkan karena kepalamu tak kunjung keluar. 
De Ranch, Lembang
Namun karena tak putus asa, dengan sisa-sisa tenaga yang ada Alhamdulillah pukul 14:20 WIB engkau lahir lewat persalinan normal seperti yang Mimi harapkan dan tanpa di vacum. Proses jahitan meski dibius lokal 3 kali dan masih terasa sakitpun Mimi abaikan. Akhirnya Mimi merasakan jihadnya seorang Ibu… Rasanya tak percaya mendekap tubuh mungilmu dalam pelukan Inisiasi Menyusu Dini saat itu… “Wah saya salut sama Bunda, sama sekali tidak menangis dan kuat” ucap seorang suster kala itu.

Masih tersimpan rapi potret-potret perjuangan itu :)
Nama Fawazel Everest Sukarno, kami berikan untukmu dengan harapan engkau selalu menjadi orang yang beruntung, senang mencari ilmu, senantiasa ditinggikan derajat dan rejekinya setinggi Gunung Everest oleh Allah SWT, Amin. Perjuangan memberikan ASI eksklusif untukmu benar-benar tak kenal lelah. Terlebih, dulu Mimi bekerja di televisi yang tak kenal waktu. Sering pergi kerja terlampau pagi *jam 4 pagi saat kau masih terlelap, juga sering tiba di rumah terlampau malam *kadang pulang pukul 3 pagi lagi saat kau sudah nyenyak. Dalam sehari pun bertemu Mas Azel hanya sebentar. Namun, berkat perjuangan Mimi di lokasi shoting, di kantor, di luar kota dan di rumah memompa ASI, engkau lulus ASI eksklusif nak ! stok ASI untukmu seolah tak pernah habis hingga kamu menginjak usia 1 tahun lebih. Pun saat engkau memasuki masa MPASI, Mimi dengan sepenuh hati menyiapkan menu MPASI rumahan yang sehat. Walau dalam sehari terkadang hanya bisa tidur 1 hingga 3 jam, itu tak masalah buat Mimi.

Mas Azel saat disinar ultraviolet
Saat thypus, RS Hermina Bekasi
Namun pernah juga mas Azel dua kali dirawat di rumah sakit. Yang pertama karena bilirubin terlampau tinggi, 1 minggu setelah lahir. Tiga hari kau di rumah sakit sendirian karena orang tuamu dilarang menemani agar penyembuhanmu maksimal disinari dengan ultraviolet. Sedih sekali rasanya hari-hari itu dirumah, Mimi membayangkanmu kedinginan tanpa baju didalam inkubator. Hanya sehari dua kali Mimi boleh melihatmu itupun tak boleh lebih dari 10 menit. Lalu opname yang kedua saat engkau belum genap 1 tahun karena positif Thypus. Mimi berusaha untuk tidak sedih didepanmu tetapi sebenarnya saat tidur malam disampingmu, ternyata bantal kita basah karena air mata Mimi, maafin ya Nak !.

Dulu srg ikut Mimi shoting, bonusnya foto brg Tante/ Om Artis
Kini, engkau tumbuh semakin besar. Sudah cukup mengerti apa yang kami ajarkan. Terimakasih Nak, kau tidak rewel selama dulu didalam kandungan dan saat hamil 9 bulan masih sabar menemani Mimi shoting berangkat pagi-pagi buta. Morning sickness pun tak Mimi alami. Saat ini mas Azel juga tidak rewel selama Mimi dan Pipi tinggal kerja, “Mimi Pipi keja yaah ? cali duit buat beli cucu Ajel?” itulah kata-kata yang sering kau ucapkan ketika mendengar orangtuamu bekerja. Terimakasih juga atas pengertianmu memahami kondisi yang tidak terlalu berlebihan (namun InsyaAllah juga tidak kurang) yang orang tuamu miliki saat ini. Mimi sangat sayang padamu mas Azel. Mimi keluar kerja setengah tahun lalu dari dunia televisi (SCTV) yang membesarkan Mimi selama 8 tahun, lalu mencari pekerjaan lain yang lebih office hour juga demi Mas Azel. Mimi harus menurunkan ego sedalam-dalamnya saat itu, hikmahnya kini Mimi senang bisa memilikimu penuh disaat weekend tiba. Memilikimu kami rasakan dihujani nikmat rejeki yang lebih dari sebelumnya. Nak, Mimi bukanlah manusia sempurna. Dalam merawatmu pasti banyak salah juga. Dalam surat terbuka ini, untaian maaf Mimi ucapkan kepadamu :


DEAR SON, My SonShine Azel…
> Maafkan Mimi.. telah mengikuti ego berharap punya anak setelah memiliki rumah. Itu tak lain karena Mimi ingin ketika engkau lahir, kau berada di rumah yang nyaman dan tidak sempit seperti saat orang tuamu dulu ngontrak..

> Maafkan Mimi.. ketika menyerah dan emosi begadang malam, karena waktu kau bayi rewel panjang selama 3 bulan inginnya diayun-ayun terus. Terlebih Mimi mengalami hemoroid setelah melahirkanmu. Oh masa itu sungguh menyiksa.

> Maafkan Mimi.. waktu kau bayi sering Mimi tinggal tugas luar kota berhari-hari hingga saat pulang, kamu lupa dan takut didekati.. Sering juga Mimi ajak kau shoting, masih ingat kan nak ?

> Maafkan Mimi.. saat engkau merengek minta ditemani bermain, Mimi malah sibuk mencuci baju atau menyetrika (karena kita belum memiliki pembantu lagi), sementara engkau duduk manis sendirian didepan hiburan tivi..

> Maafkan Mimi.. ketika engkau berteriak minta diperhatikan sementara Mimi sibuk membalas sms, bbm, menjawab telpon atau asyik didepan laptop.. 

> Maafkan pula.. ketika Azel harus berulang kali berganti pengasuh. Pengasuh pertama malas dan tidak peduli mendadak meninggalkan kita, pengasuh kedua pulang kampung karena sakit paru-paru. Dan sekarang engkau Mimi titipkan ke Enin & Engking semoga seperti cucu sendiri dan ada rasa aman.

> Maafkan Mimi.. yang suka marah disaat capek dan kau tidak menuruti apa yang Mimi inginkan. Kau membuat rumah seperti kapal pecah, mencoret seluruh bagian dinding, mengoprek peralatan dapur dan memukulnya kencang, padahal semua itu proses kreatifitasmu..

> Maafkan Mimi.. yang tak sempat menelpon kabarmu seharian penuh karena kesibukan kerja dan sekarang justru mengambil tambahan kuliah lagi yang pasti akan mempersibuk keadaan

> Maafkan Mimi.. yang belum memikirkan kapan memberimu adik padahal kau sangat sayang adik kecil.

> Dan maafkan Mimi yang sampai saat ini masih memutuskan untuk bekerja dan belum bisa sepenuhnya mengurusmu menjadi ibu rumah tangga sejati..

Kukup beach, Gunung Kidul, Jogjakarta
Maafkan semua kekurangan Mimi Nak… Memilikimu adalah sebuah kebanggaan, namun Mimi tidak ingin yang biasa orang lain pikirkan bahwa memiliki anak pertama laki-laki itu bisa menjadi tumpuan atau tulang punggung orang tua atau adik-adiknya. Bukan, itu bukan prinsip Mimi. 
Kami akan merawat dan membesarkanmu agar kau bisa tumbuh menjadi anak yang tangguh, mandiri dan meraih impian besarmu. Tapi Mimi harap bukan untuk menjadi tulang punggung orang tua atau adik-adikmu kelak. Selama daya orang tuamu ini masih ada dan selama kekuatan ini masih bersemayam, orangtuamu akan selalu penuh semangat untuk bekerja dan tidak ingin merepotkanmu, semoga. Pupuklah jiwamu dengan semangat Nak, bukan dengan kemalasan.

Kami InsyaAllah akan memberikan pendidikan untukmu sebagai warisan yang luhur. Merawatmu adalah ibadah. Dari lubuk hati yang paling dalam, Mimi menyayangimu lebih dari apapun. Meski sibuk, Mimi sering mengkhawatirkanmu disaat jauh. Kecupan malam selalu Mimi berikan  dalam tidur lelapmu. Inilah tapak cerita kehidupan kita yang masih jauh tujuannya Nak. 
Terimakasih Ya Allah, sudah memberikan kebahagiaan dengan hadirnya lelaki kecil ini. Jagalah dia senantiasa,  pertemukan ia dengan lingkungan yang selalu positif, jadikan anakku sesuai dengan arti namanya, dan berilah aku kesabaran yang tak terhingga. Cinta untukmu Dear Son, My SonShine Azel… adalah cinta tanpa syarat.. We always love you !! :’)

Tongkat selanjutnya saya serahkan kepada Mak Christanty Putri Arty, silakan Mak kami tunggu cerita DearSon-nya :)

4 komentar:

  1. Wah kereeenn banget isi artikelnya, bikin mataku berkaca2 deh Mak Tuning caem. Salut juga sama perjuangannya, salam ketjup manis untuk jagoannya pula. Indahnya berbagi moment istimewa dengan buah hati dalam kehidupan ini..... Ganbatte . Big Big Hug ...muaaach :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mak atas jejaknya :) padahal jiper nih mak, tulisan emak-emak lain bagus2 juga yaa... ampe melow2 bisa nangis didepan layar. Gimana sudah ready ceritanya mak ? saya tunggu :)

      Hapus
  2. terharu,jeng bacanya.....indah sekali kata2nya....suatu hari kelak aq jg ingin mendedikasikan seperti ini buat anak2ku.....
    kata orang...panggilan terindah terhadap seorang wanita adalah "ibu"....berharap semoga aku segera dipertemukan jodohku...agar aku bisa merasakan...seperti yang kamu rasakan...lam sayang untuk 'Azel" yach,jeng ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... iyaa Jeng Syahara... betul. Ketika kita ber predikat Ibu, saat itu juga kita "dipaksa" untuk lebih sabar, menurunkan ego, membagi waktu yg sedikit dengan tugas yang seabreg-abreg. Amin.. semoga kamu segera dipertemukan dengan jodohmu :)

      Hapus